Rabu, 30 Maret 2016





 Senam Nifas

A.      Latar Belakang

Masa nifas adalah masa dua jam setelah lahirnya placenta sampai enam minggu berikutnya. Perawatan ibu nifas meliputi: pemenuhan sehari-hari, memeriksa payudara, uterus, lokea, perineum (luka episiotomy dan hemoroid), kandung kencing dan psikis ibu, menganjurkan untuk mobilisasi dini (Manuaba,1999:150). Salah satu bentuk mobilisasi setelah bersalin adalah senam nifas yang sangat penting untuk mengembalikan tonus otot-otot perut (Iis Sinsin,2008:119). Senam nifas memberikan latihan gerak secepat mungkin agar otot-otot yang mengalami peregangan selama kehamilan dan persalinan kembali normal (Mutia Alisjahbana,2008). Senam nifas merupakan bentuk ambulasi dini pada ibu-ibu nifas yang salah satu tujuannya untuk memperlancar proses involusi, sedangkan ketidaklancaran proses involusi dapat berakibat buruk pada ibu nifas seperti terjadi pendarahan yang bersifat lanjut dan kelancaran proses involusi (Iis Sinsin,2008:118). Menurut Hellen Farer (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa kebanyakan ibu nifas enggan untuk melakukan pergerakan, mereka khawatir gerakan yang dilakukan justru menimbulkan dampak seperti nyeri dan perdarahan. Kenyataanya pada ibu nifas yang tidak melakukan senam nifas berdampak kurang baik seperti timbul perdarahan atau infeksi. Masih banyak ibu-ibu nifas takut untuk bergerak sehingga menggunakan sebagian waktunya untuk tidur terus menerus.








B.     Konsep Dasar Nifas (puerperium)
1.      Pengertian Nifas (puerperium)
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2002:122). Masa nifas (puerperium) adalahmasa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kaandungan kembali seperti pra-hamil.masa nifas ini yaitu 6 minggu (Mochtar, 1998:122)
2.      Pembagian masa nifas
Menurut Muctar R (1998:115) masa nifas di bagi menjadi 3 periode.
a)       Puerperium Dini
Yang di maksud adalah kepulihan dimana ibu di perbolehkan berdiri dan berjalan. Sekarang tidak di anggap perlu lagi menahan ibu pasca persalinan terlentang di tempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan.
b)       Pueperiun Intermedial
Adalah kepulihan menyeluruh alat alat genetalia external dan internal yang lamanya 6-10 minggu.
c)      Remote Puerperium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu.
3.      Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas
Menurut Bubak (2002) perubahan yang terjadi pada masa nifas :
a)      Involusi uteri
Involusi atau pengerutan uterus adalah suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram.
b)       Lochea
Lochea adalah cairan yang keluar dari liang senggama pada masa nifas (Manuaba,1999:151)
Lochea adalah cairan secret yang yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas (Mochtar,1998:116)
1)      Lochea Rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum, selama 2 hari pasca persalinan.
2)      lochea Sanguinolenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca persalinan
3)      Lochea Serosa
Berwarna kuning , cairan tidak merah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
4)   Lochea Alba
Cairan putih setelah 2 minggu
C.     Laktasi
Menurut Wiknjosastro (2002:239) sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan pada kelenjar mamae untuk menghadapi masa laktasi ini perubahab yang terdapat pada kedua mamae antara lain sebagai berikut.
1)      Proliferasi jaringan, terutama kelenjar dan alveolus mamae dari lemak.
2)       Pada duktus laktiverus terdapat cairan yangkadang-kadang di keluarkan berwarna kuning (kolostrum).
3)      Hepervaskulerisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian mamae.
4)       Setelah partus, pengaruh oksitosin mengakibatkan miopitelium kelenjar susu berkontraksi, sehingga keluar air susu.

D.    Konsep Dasar Senam Nifas
1.      Pengertian
Senam nifas adalah senam yang di lakukan pada saat seorang ibu menjalani masa nifas atau masa setelah melahirkan (Idamaryanti,2009).
Senam nifas adalah latihan gerak yang dilakukan secepat mungkin setelah melahirkan, supaya otot-otot yang mengalami peregangan selama kehamilan dan persalinan dapat kembali kepada kondisi normal seperti semula (Ervinasby,2008).
Senam nifas dapat di mulai 6 jam setelah melahirkan dan dalam pelaksanaanya harus dilakukan secara bertahap, sistematis dan kontinyu (Alijahbana,2008).
2.      Tujuan senam nifas
Tujuan senaam nifas di antaranya:
a.       Memperlancar terjadinya proses involusi uteri (kembalinya rahim ke bentuk semula).
b.      Mempercepat pemulihan kondisi tubuh ibu setelah melahirkan pada kondisi semula.
c.       Mencegah komplikasi yang mungkin timbul selama menjalani masa nifas.
d.      Memelihara dan memperkuat kekuatan otot perut, otot dasar panggul, serta otot pergerakan.
e.       Memperbaiki sirkulasi darah, sikap tubuh setelah hamil dan melahirkan, tonus otot pelvis, regangan otot tungkai bawah.
f.       Menghindaripembengkakan pada pergelangan kaki dan mencegah timbulnya varises.



4.      Manfaat senam nifas
a.        Membantu penyembuhan rahim, perut, dan otot pinggul yang mengalami trauma serta mempercepat kembalinya bagian-bagian tersebut kebentuk normal.
b.      Membantu menormalkan sendi-sendi yang menjadi longgar diakibatkan kehamilan.
c.       Menghasilkan manfaat psikologis menambah kemampuan menghadapi stress dan bersantai sehingga mengurangi depresi pasca persalinan.
5.       Syarat senam nifas
Senam nifas dapat di lakukan setelah persalinan, tetapi dengan ketentuan sebagai berikut:
a.       Untuk ibu melahirkan yang sehat dan tidak ada kelainan.
b.      Senam ini dilakukan setelah 6 jam persalinan dan dilakukan di rumah sakit atau rumah bersalin, dan diulang terus di rumah.
6.       Kerugian Bila Tidak Melakukan senam nifas
a.        Infeksi karena involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan.
b.      Perdarahan yang abnormal, kontraksi uterus baik sehingga resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan.
c.       Trombosis vena (sumbatan vena oleh bekuan darah).
d.      Timbul varises.
7.      Cara melakukan senam nifas
a.        Latihan senam nifas
1)       Hari pertama, sikap tubih terlentang dan rileks, kemudian lakukan pernafasan perut diawali dengan mengambil nafas melalui hidung dan tahan 3 detik kemudian buang melalui mulut, Lakukan 5-10 kali.
Rasional :
Setelah melahirkan peredaran darah dan pernafasan belum kembali normal. Latihan pernafasan ini ditujukan untuk memperlancar peredaran darah dan pernafasan. Seluruh organ-organ tubuh akan teroksigenasi dengan baik sehingga hal ini juga akan membantu proses pemulihan tubuh.
2)       Hari kedua, sikap tubuh terlentang, Kedua tangan dibuka lebar hingga sejajar dengan bahu kemudian pertemukan kedua tangan tersebut tepat di atas muka. Lakukan 5-10 kali.
Rasional : Latihan ini di tujukan untuk memulihakan dan menguatkan kembali otot-otot lengan.
3)      Hari ketiga, sikap tubuh terlentang, kedua kaki agak dibengkokkan sehingga kedua telapak kaki berada dibawah. Lalu angkat pantat ibu dan tahan hingga hitungan ketiga lalu turunkan pantat keposisi semula. Ulangi 5-10 kali.
Rasional :
Latihan ini di tujukan untuk menguatkan kembali otot-otot daar panggul yang sebelumnya otot-otot ini bekerja dengan keras selama kehamilan dan persalinan.
4)      Hari keempat, tidur terlentang dan kaki ditekuk ± 45°, kemudian salah satu tangan memegang perut setelah itu angkat tubuh ibu ± 45° dan tahan hingga hitungan ketiga.
Rasional :
Latihan ini di tujukan untuk memulihakan dan menguatkan kembali otot-otot punggung.
5)      Hari kelima, tidur terlentang, salah satu kaki ditekuk ± 45°, kemudian angkat tubuh dan tangan yang berseberangan dengan kaki yang ditekuk usahakan tangan menyentuh lutut. Gerakan ini dilakukan secara bergantian hingga 5 kali.

Rasional :
Latihan ini bertujuan untuk elatih sekaligus otot-otot tubuh diantaranya otot-otot punggung, otot-otot bagian perut, dan otot-otot paha.
6)     Hari keenam, Sikap tubuh terlentang kemudian tarik kaki sehingga paha membentuk 90° lakukan secara bergantian hingga 5 kali.
Rasional:
Latihan ini ditujukan untuk menguatkan otot-otot di kaki yang selama kehamilan menyangga beban yang berat. Selain itu untuk memperlancar sirkulasi di daerah kaki sehingga mengurangi resiko edema kaki.
GAMBAR SENAM NIFAS
a)      Berbaring dengan lutut di tekuk. Tempatkan tangan diatas perut di bawah area iga-iga. Napas dalam dan lambat melalui hidung dan kemudian keluarkan melalui mulut, kencangkan dinding abdomen untuk membantu mengosongkan paru-paru
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRb_DxYBSOKUnXNcpyo_otSNS1OEBqF5FHYcGIzBfOxROkT7l6os1docvhOONWG473AaP4z1ZiHMMp0y9PoAtaYGICPY7YT75t3qoumwJyg05tPQig-9XyWVsKrQdbLazcNbneayEviaY/s1600/1.bmp







b.      Berbaring telentang, lengan dikeataskan diatas kepala, telapak terbuka keatas. Kendurkan lengan kiri sedikit dan regangkan lengan kanan. Pada waktu yang bersamaaan rilekskan kaki kiri dan regangkan kaki kanan sehingga ada regangan penuh pada seluruh bagian kanan tubuh.
Kontraksi vagina. Berbaring telentang. Kedua kaki sedikit diregangkan. Tarik dasar panggul, tahan selama tiga detik dan kemudian rileks.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7Y4oBsamemPJEv-PdC1FMGpSralxqyeQVWyn8Mm-Z_1-jf_erywq-7TyMyZcbaiScFM7Xt4Xx19HKeqcFJU4pa6M94XGpb2ZMaptMp1ovC7voCPBxfBBtOngF9lCb52lhhdDJAFyffIE/s1600/2.bmp
c.       Kontraksi vagina. Berbaring telentang. Kedua kaki sedikit diregangkan. Tarik dasar panggul, tahan selama tiga detik dan kemudian rileks.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix2If1RjT9Ze7NmPBhmt0gNhG9omMpXlLYNryAMWwRRIb_WRDmyQxpl0bit_QoOJo7VdiU1Xo-NcdZHXbiSh1efMoRD0rqaoNCeKeCwB6GvC1IPGE-K5vUOHQoIsUfNl_7vIJxWQqP2IM/s1600/3.bmp
d.      Memiringkan panggul. Berbaring, lutut ditekuk. Kontraksikan/kencangkan otot-otot perut sampai tulang punggung mendatar dan kencangkan otot-otot bokong tahan 3 detik kemudian rileks.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW5rnBx7-6LlYaNNmmXoK14M6cKhccg15u24D-u9OCx888SLWbnKKqJmqTkGXdoj9lQCb6oC8JR6cbC2dscASToo_Smkx_3ZkTiPyrk7o9jqfnowSyhjYaxKKJl6hVEwVPfMMCWMLB_zY/s1600/4.bmp
e.      Berbaring telentang, lutut ditekuk, lengan dijulurkan ke lutut. Angkat kepala dan bahu kira-kira 45 derajat, tahan 3 detik dan rilekskan dengan perlahan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgByXJKANQpHgok7LopJTktSlZ4_iBzn7zBetd8RPfWK1btswUkp-jDSVZDk0IAZu0cFhdDGeobfN7QF3vWzs7QynkDIHDgvb_bguUvq68FL9i9Jpev0QujGC3AK45IP1fmFU7o_jGAfAc/s1600/5.bmp


f.        Posisi yang sama seperti diatas. Tempatkan lengan lurus di bagian luar lutut kiri.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXuopW8g56ULo_b97mHCfRC5rz0bjhW8lODx4F6tLeww9BgESw026yw2yHNHgIL-orGqw-tO1ivldC1vNpD2ttcP1FTe_0hrqS7iBaC2xN9gAXovgqkIappLCwEfNva1bbwERyhDgg6WQ/s1600/6.bmp
g.       Tidur telentang, kedua lengan di bawah kepala dan kedua kaki diluruskan. angkat kedua kaki sehingga pinggul dan lutut mendekati badan semaksimal mungkin. Lalu luruskan dan angkat kaki kiri dan kanan vertical dan perlahan-lahan turunkan kembali ke lantai.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0jjOt7hyphenhyphenpoNo-djWIR39WbBN_ccJGgBKY31pPbIarqY_KL2wdkYtHZfdXuYNVuNSBh5eLg_xe9aEw-0qESDbfKhtxE6rFIdyyRhoRzRws5IPPVFlaZciEC2xyD4AUDEbWogcGZgL2-y8/s1600/7.bmp
h.      Tidur telentang dengan kaki terangkat ke atas, dengan jalan meletakkan kursi di ujung kasur, badan agak melengkung dengan letak pada dan kaki bawah lebih atas. Lakukan gerakan pada jari-jari kaki seperti mencakar dan meregangkan. Lakukan ini selama setengah menit.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF4orL32EE_N_lAKgtpOr_qnhNOPkJUBGzXbhVsBZU-uPYH0Od8-93TXdn7J3FydbhVLQtonzdJj9FNeOtNlKQCDgnN_bww_d80WZcz6XdO72_tIzrR-TMZuLblB_Jp4q77ww62Y2CBEA/s1600/8.bmp
i.         Gerakan ujung kaki secara teratur seperti lingkaran dari luar ke dalam dan dari dalam keluar. Lakukan gerakan ini selama setengah menit.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQIWGkbgzwuF8AAUkEmNoWny5S1tk0_UuKv3L00dwWHGyGAieVj6Jwgu83Nd0XY29QWMdWonhS6Cq0ywGgfOugRkj-F30rVmVL8YIygK81ASfsiTas-9hND0-nrQRyj7Q-1gqy6GH9q0w/s1600/9.bmp


j.        Lakukan gerakan telapak kaki kiri dan kanan ke atas dan ke bawah seperti gerakan menggergaji. Lakukan selama setengah menit.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIB3ZyBK47Z-qaV8EO6b80UWrQta9XdYWGwvfnkapU8MobUFMCXeGaB9xZCtlUeI38Rps3VJts4f19XK61o0gIK3PxgW_JCwr_WSrqJ8dBAsNM2sK7WiS1D3v7YCtqT1iWuJEu889zf20/s1600/10.bmp
k.       Tidur telentang kedua tangan bebas bergerak. Lakukan gerakan dimana lutut mendekati badan, bergantian kaki kiri dan kaki kanan, sedangkan tangan memegang ujung kaki, dan urutlah mulai dari ujung kaki sampai batas betis, lutut dan paha. Lakukan gerakan ini 8 sampai 10 setiap hari.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj-MbmKxgzNfDB7x9gUqAFZj3i0hXcSac-cny8DMfIwGWP42ctJZyu5-Zmj66eAGhdUuILYJ2Is0C073TOJpqrjNB3q51NV0FZ6IS36OrOlZBF9DwP5tjN8Mr-WwaeUZZ2M-o7DktX2xw/s1600/11.bmp
l.         berbaring telentang, kaki terangkan ke atas, kedua tangan di bawah kepala. Jepitlah bantal diantara kedua kakidan tekanlah sekuat-kkuatnya. Pada waktu bersamaan angkatlah pantat dari kasur dengan melengkungkan badan. Lakukan sebanyak 4 sampai 6 kali selama setengah menit.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-nsmqXWAk9Opx5cLQrxcNO_WTeiMLEJNuCaLcQ26J3JUoSKR4bLXn0mI9GW5Yw1Uw9ojAnXJ-UI6kEF0EqhPPCmAHnAz2PhDjFoGUBz_OrpxTS0LWg4VADT5-v638qy2OQxExDui8D68/s1600/12.bmp
m.    Tidur telentang, kaki terangkat ke atas, kedua lengan di samping badan. kaki kanan disilangkan di atas kaki kiri dan tekan yang kuat. Pada saat yang sama tegangkan kaki dan kendorkan lagi perlahan-lahan dalam gerakan selama 4 detik. Lakukanlah ini 4 sampai 6 kali selama setengah menit.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjehVVhTcoy4HAzRFZdyqojLlA3eQ9fEzIYrexqCeYjlCbVoR4lJlXKmBkIt1uBALSSZNCmolOgQsXUHFdNV0wgnGNj6sY_uiLFdzI9hTJ6w_QyldDcZB-4KHqnBNJcCkfGuBKuVGYILmA/s1600/13.bmp


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Teori
1.      Luka
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa luka merupakan suatu keadaan hilang atau rusaknya suatu jaringan akibat trauma tertentu. Luka merupakan gangguan kontinuitas suatu jaringan, sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal. Pada perlukaan tidak selamanya terjadi diskontinuitas (terputusnya) jaringan kulit pada suatu luka, walaupun jaringan di bawah kulit terganggu, misalnya pada luka memar.
a.       Integumen normal
Boyle (2009) menyatakan bahwa kulit terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan pertama disebut epidermis merupakan lapisan yang tidak berpembuluh darah yang tersusun atas epitel skuamosa atau kratinosit. Lapisan kedua disebut membran dasar yang merupakan area keranosit. Lapisan kedua disebut membran dasar yang merupakan area yang memisahkan antara dermis dan epidermis. Lapisan ketiga disebut dermis yang merupakan lapisan yang paling tebal yang mengandung kolagen.
Potter & perry (2005) menyatakan bahwa kulit memiliki dua lapisan utama yang terkait dengan penyembuhan luka, yaitu epidermis dan drmis. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh sebuah membran dasar yang disebut penghubung dermis-epidermis.
1)      Epidermis
Epidermis berfungsi membentuk kembali permukaan luka dan memulihkan barier yang dapat mencegah masuknya organisme. Stratum korneum merupakan lapisan tipis sebagai lapisan terluar dari epidermis. Stratum komeum terdiri dari sel mati yang pipih dan mengalami keratinisasi. Sel-sel tersebut berasal dari sel-sel epidermis yaitu stratum basalis. Sel pada stratum basalis akan membelah, berproliferasi dan pindah kepermukaan epidermis. Setelah mencapai stratum korneum, sel berubah menjadi pipih dan mati. Pergerakkan yang konstan ini menjamin adanya penggantian sel dipermukaan kulit secara bertahap selama deskumasi normal. Stratum korneum yang tipis melindungi sel dan jaringan dibawahnya dari dehidrasi dan mencegah masuknya zat kimia tertentu. Stratum korneum juga memungkinkan terjadinya evaporasi air dari kulit dan absopsi obat-obatan topikal tertentu (Potter &Perry, 2005).
2)      Dermis
Menurut potter & Perry (2005) menyatakan bahwa dermis merupakan lapisan kulit bagian dalam yang memberikan daya elastisitas, sokongan mekanik dan perlindungan bagi otot, tulang dan organ dibawahnya. Lapisan ini sebagian besar terdiri dari jaringan penghubung dan sedikit sel kulit. Jaringan ini disusun oleh kolagen (protein yang kuat dan berserat yang dibentuk oleh fibroblast). Pembuluh darah dan saraf. Dermis akan memperbaiki integritas struktural (kolagen) dan sifat fisik kulit. Jika dermis gagal mengalami penyembuhan maka klien beresiko infeksi, gangguan sirkulasi darah dan kerusakan jaringan meskipun epidermis nampak menutup.








b.      klasifikasi Luka
Arif (2005) menyatakan bahwa luka memiliki klasifikasi berdasarkan integrritas kulit, penyebab dan tingkat keparahan. Masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut.
1)      Status integritas luka yaitu:
a)      Luka tertutup
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa luka tertutup merupakan jenis luka yang tidak terjadi hubungan antara luka dengan dunia luar. Luka tanpa robekan pada kulit, antara lain:
(1)   Luka Memar ( vulnus contussum)
Disini kulit tidak apa-apa, pembuluh darah subkutan dapat rusak, sehingga terjadi hematoma. Bila hematom berukuran kecil, maka akan hilang dan diserap oleeh jaringan disekitarnya, namun bila hematom besar, maka penyembuhan berjalan lambat atau dilakukan insisi pada luka untuk mengeluarkan bekuan darah.
(2)   Vulnus Traumaticum
Luka terjadi di dalam tubuh, tetapi tampak dari luar. Dapat memberikan tanda-tanda dari hematom hingga gangguan sistem tubuh. Bila melibatkan organ vital, maka penderita dapat meninggal mendadak. Contoh luka ini pada benturan di dada, perut, leher dan kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ dalam.



b)      Luka Terbuka
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa luka terbuka merupakan luka yang mengalami hubungan dengan dunia luar. Macam-macam luka terbuka antara lain:
(1)   Vulnus Excoriatio (Luka Lecet)
Merupakan jenis luka yang palling ringan dan paling mudah sembuh. Terjadi karena gesekan aspal, semen, atau tanah.
(2)   Vulnus Scissum/incisivum (Luka Sayat)
Tepi luka tajam dan licin. Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit, maka luka tidak terlalu terbuka. Bila memotong pembuluh darah, maka darah sukar berhenti karena sukar terbentuk cincin trombosis (trombosis ring).
(3)   Vulnus Laceratum (Luka Robek)
Biasanya disebabkan oleh benda tumpul, tepi luka tidak rata, dan pendarahan sedikit karena mudah terbentuk cincin trombosis akibat pembuluh darah yang hancur dan memar. Luka perineum masuk pada jenis luka laserasi.




(4)   Vulnus Punctum (Luka Tusuk)
Luka ini disebabkan oleh benda runcing memanjang. Dari luar luka tampak kecil, tetapi di dalam kemungkinan rusak berat. Derajat bahaya tergantung atas benda yang menusuk (besarnya, kotornya) dan daerah yang tertusuk.
(5)   Luka tusuk yang mengenai abdomen atau thorax seing juga disebut vulnus penetrosum (luka tembus). Pemeriksaan terpenting untuk mencari organ yang terkena dan menentukan tingkat bahaya kerusakan tersebut. Pada luka ini sebaiknya dilakukan tindakan eksplorasi (membuka dan melebarkan luka).
(6)   Vulnus Caesum (Luka Potong)
Luka ini disebabkan oleh benda tajam yang besar disertai tekanan, misalnya luka oleh kampak dan lain sebagainya. Tepi luka tajan dan rata, luka sering terkontaminasi, oleh karena itu kemungkinan infeksi lebih besar.
(7)   Vulnus Sclopetorum (Luka Tembak)
Terjadi akibat tembakan, granat, sebagaiya. Tepi luka dapat tidak teratur. Corpus Alineum (benda asing) dapat dijumpai di dalam luka, misalnya pecahan grant, anak peluru, sobekan baju yang mengikuti ke dalam tubuh, dan sebagainya. Kemungkinan infeksi dengan bakteri anaerob lebih besar.

(8)   Vulkus Morsum (Luka Gigit)
Disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia. Kemungkinan terjadinya infeksi lebih besar. Bentuk gigitan tergantung pada bentuk gigi penggigit.
c)      Luka Akut
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa luka yang mengalami proses penyembuhan, yang terjadi akibat proses perbaikan integritas fungsi dan anatomi secara terus menerus sesuai dengan tahap dan waktu yang normal. Penyebabnya adalah trauma akibat benda tajam. Luka biasanya mudah dibersihkan dan diperbaiki, tepi luka biasanya utuh.
d)     Luka Kronik
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa jenis luka yang gagal melewati proses perbaikan untuk mengembalikan integritas fungsu dan anatomi sesuai dengan tahap dan waktu yang normal. Penyebabnya berupa ulkus, gesekan sekresi atau tekanan. Terpaparnya tubuh terhadap tekanan, gesekan dan sekresi yang terus menerus akan mengganggu penyembuhan luka nekrotik dan mengeluarkan drainase.
1)      Luka berdasar penyebab
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa berdasarkan penyebabnya luka dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a)      Luka yang disengaja
Biasanya akibat terapi atau karena inisisi, tusukan jarum ke bagian tubuh. Insisi biasanya dilakukan dengan teknik aseptik untuk meminimalkan peluang terjadinya infeksi, biasanya tepi luka licin dan bersih.
b)      Kecelakaan tidak disengaja
Merupaka luka yang terjadi tanpa diharapkan. Biasanya terjadi akibat cidera traumatik, misal luka akibat pisau atau luka bakar. Luka sering terjadi pada kondisi yang tidak steril dan tepi luka tidak beraturan.
2)      Tingkat Keparahan
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat keparahannya, luka dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
(a)    Permukaan
Luka hanya megnenai lapisan epidermis, merupakan jenis luka yang terjadi akibat gesekan pada permukaan kulit. Contohnya pada abrasi, luka bakar tingkat 1 dan luka cukur. Robekan yang terjadi dapat menimbulkan risiko infeksi, tidak mengenai jaringan dan organ di bawahnya, suplai darah lancar.
(b)   Penetrasi
Luka yang menyebabkan rusaknya epidermis, dermis dan jaringan atau organ yang lebih dalam. Benda asing yang masuk pada akibat luka tembak, luka tusuk beresiko infeksi. Luka dapat menyebabkan perdarahan dalam dan luar. Jika terjadi kerusakan organ, dapat menyebabkan hilangnya fungsi secara sementara atau permanen.
(c)    Perforasi
Merupakan luka perforasi akibat adanya benda asing yang masuk ke dalam dan keluar dari organ dalam. Resiko infeksi tinggi, sifat cidera bergantung pada organ yang perforasi (paru dengan gangguan oksigenasi, rongga abdomen oleh feses).
(d)   Luka berdasar kebersihannya
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat kebersihannya, luka kdapat diklasifikasikan menjadi 4 yang akan dijelaskan sebagai berikut:
(1)   Luka Bersih
Merupaka jenis luka yang tidak mengandung organisme patogen. Terjadi karena luka bedah tertutup yang tidak mengenai saluran GI, pernapasan, genital, saluran kemih yang tidak terinfeksi atau orofaring sehingga resiko infeksi rendah.
(2)   Luka Terkontaminasi Bersih
Luka dalam kondisi aseptik, tetapi melibatkan anggota tubuh yang secara normal mengandung mikroorganisme. Biasanya terjadi pada saluran gastrointestinal, pernafasan, genetalia, saluran kemih atau rongga orofaring pada kondisi yang terkontrol. Jenis luka ini lebih beresiko mengalami infeksi daripada luka bersih.
(3)   Luka Terinfeksi
Terdapat bakteri pada luka, terjadi pad luka yang tidak sembuh dan nampak tanda-tanda infeksi.
(4)   Luka Terkolonisasi
Luka yang berada pada kondisi yang mungkin mengandung mikroorganisme. Biasanya disebakan oleh luka koronik dan beresiko tinggi mengalami infeksi.

3)      Kualitas deskriptif luka
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa berdasarkan kualitas deskriptifnya, luka dibedakan menjadi 3 yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a)      Laserasi
Luka dengan jaringan tubuh yang robek dengan tepi yang tidak beraturan. Bisa terjadi akibat traumatik yang berat, misal luka akibat pisau, kecelakaan kerja, jaringan tubuh terpotong oleh pecahan gelas, kedalaman luka akan menentukan komplikasi yang lain.
b)      Abrasi
Merupakan luka permukaan yang meliputi luka potong atau lecet, misalnya luka akibat jatuh, atau prosedur tindakan dermatologi. Biasanya luka terasa nyeri karena mengenai saraf dipermukaan. Resiko infeksi timbul akibat terpapar dengan permukaan yang terkontaminasi.
c)      Kontusio
Merupakan luka yang tertutup, karena pukulan benda tumpul, memar ditandai dengan pembengkakan perubahan warna kulit dan nyeri. Perdarahan jaringan dibawahnya akibat pukulan benda tajam. Luka menjadi lebih parah jika organ dalam mengalami kontusio karena dapat menyebabkan hilangnya fungsi organ secara kontemporer.




c.        Fase dan Proses Penyembuhan Luka
Boyle (2009) menyatakan bahwa penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian dan perbaikan jaringan. Seluruh proses penyembuhan diatur oleh serangkaian reaksi kimia yang kompleks yang menginisasi, mengendalikan atau menghambat berbagai faktor dan saling berhubungan. Segera setelah cidera, pembuluh darah akan berkonstriksi di tempat tersebut, untuk mengurangi perdarahan.
 Potter & Perry (2005) menyatakan bahwa penyembuhan luka melibatkan integrasi proses fisiologi. Sifat penyembuhan pada semua luka sama, yang membedakan adalah lokasi, keparahan, luasnya cidera dan juga kemampuan sel dalam melakukan regenerasi. Pada bagian organ tertentu misal saraf, ginajal regenerasinya sangat lambat atau bahkan tidak mengalami regenerasi. Proses penyembuhan luka ada dua yaitu:
1)      Proses Penyembuhan Luka Primer
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa luka dengan sedikit jaringan yang hilang akan mengalami penyembuhan luka primer dan memiliki resiko infeksi yang lebih  kecil. Misal pada luka bedah tepi-tepi kulit merapat dan akan mengalami peyembuhan yang cepat. Proses penyembuhan melalui 3 fase yaitu:
a)      Inflamasi
Fase inflamasi berlangsung dari mulai terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. Boyle (2009) menyatakan fase inflamasi berlangsung mulai dari beberapa jam setelah cedera dan bertahan hingga hari ke lima sampai ke tujuh. Fase inflamasi yang normal ditandai dengan:
(1)   Kemerahan (eritema)
(2)   Kemungkinan pembengkakan
(3)   Suhu sedikit meningkat di area setempat (atau pada kasus luka yang luas, terjadi pireksia seistemik).
(4)   Kemungkinan ada nyeri
Boyle (2009) menyatakan bahwa jika tanda-tanda diatas berlebihan, justru mengindikasikan adanya infeksi. Selama peralihan dari fase inflamasi ke fase proliferatif, jumlah sel radang menurun dan jumlah fibroblas meningkat.
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa pembuluh darah yang terputus akan menyebabkan perdarahan, dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan melakukan vasokonstriksi. Pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi) dan hemostasis. Terjadinya hemostasis karena adanya trombisis yang keluar dari peembuluh darah saling melekat, dan bersama jala fibrin yang terbentuk, akan membekukan darah yang keluar dari pembuluh  darah. Htrombosit yang berlekatan akan berdegranulasi, melepas kemoatraktan yang menarik sel radang, mengaktifkan fibroblast lokal dan sel endotel serta vasokonstriktor. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi.
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan bahwa setelah hemostatis, proses koagulasi akan mengaktifkan kaskade komplemen. Dari kaskade ini akan dikeluarkan bradikinin dan antifilatoksin C3a dan C5a yang menyebabkan vasodilatasi dan permeabilitas vaskular yang meningkat sehingga terjadi eksudasi, penyebukan sel radang yang disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udema dan pembengkakan.
Tanda dan gejala radang berupa warna kemerahan, karena kapiler melebar (rubor), rasa hangat (kalor), nyeri (dolor), dan pembengkakan (tumor).
Aktivitas seluler yang terjadi berupa pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Kemudian akan muncul monosit dan leukosit ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka dan bakteri (fagositosis). Fase ini disebut fase lamban karena pembentukan kolagen masih sedikit dan luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah. Monosit yang berubah menjadi makrofag ini juga menyekresi macam-macam sitokinin dan growth factor yang dibutuhkan dalam penyembuhan luka (Sjamsuhidajat, 2010).
Penampakan luka perlu diamatai untuk mengetahui apakah tepi luka telah menutup dalam waktu 7-10 hari. Luka dengan penyembuhan normal akan tersisi sel epitel ( Potter &Perry, 2005).
a)      Proliferasi
        fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira akhir minggu ke tiga. Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asam aminoglisin, prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang akan mempertautkan tepi luka(Sjamsuhidajat, 2010).

b)      Maturasi
Sjamsuhidajat (2010) mennyatakan bahwa pada fase maturasi terjadi proses pematangan yang terdiri atas penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan yang sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan ulang jaringan yang baru. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan ddan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Udema dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yan berlebih di serap dan sisanya mengerut sesuai dengan besarnya regangan. Selama proses ini berlangsung, dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis dan lentur, serta mudah digerakkan dan kasar. Terlihat pengerutan yang maksimal pada luka. Pada akhir fase ini, perupaan kulit mampu menahan regangan kira-kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. Perupaan luka tulang (patah tulang) memerlukan waktu satu tahun atau lebih untuk membentuk jaringan yang normal secara histologis.
2.      penyembuhan luka sekunder
Potter & perry (2005) menyatakan bahwa luka dengan jaringan yang hilang akan mengalami penyembuhan luka sekunder, misal luka bakar, luka tekan atau luka laserasi yang parah. Tepi luka tidak saling berdekatan sehingga memerlukan waktu penyembuhan yang lama sehingga resiko infeksi lebih besar.


d.      faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
Menurut Boyle (2009) menyatakan bahwa pnyembuhan luka dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1)      Vaskularisasi
Luka memerlukan keadaan peredaran darah yang baik untuk pertumbuhan dan perbaikan sel
2)      Usia
Sjamsuhidajat (2010) menyatakan pada anak-anak dan orang muda, luka akan lebih cepat sembuh dibandingkan orang tua. Pada usia lanjut kemungkinan terjadi proses degenerasi tidak adekuatnya pemasukan makanan, menurunnya kekebalan dan menurunnya sirkulasi.
Ambarwati & Sunarsih (2009) menyatakan bahwa penambahan usia akan berpengaruh pada gangguan sirkulasi, dan koagulopati, respon inflamasi yang lebih lambat dan penurunan aktifvitas fibroblas.
3)      Merokok
Merokok dapat mengurangi jumlah Hb fungsional dalam darah sehingga menurunkan oksigenasi pada jaringan sehingga jaringan gagal memperoleh oksigen. Merokok dapat mengganggu mekanisme sel normal yang dapat mengakibatkan pelepasan oksigen ke dalam jaringan.
4)      Gangguan tidur
Gangguan tidur dapat mengganggu penyembuhan luka karena dapat meningkatkan anabolisme, dan penyembuhan luka termasuk proses anabolisme.
5)      Stres
Diduga ansietas dan stres dapat mengganggu sistem imun sehingga dapat menyebabkan penghambatan terhadap penyembuhan luka.
6)      Kondisi medis dan terapi
Salah satu tujuan perawatan luka adalah menghambat atau membunuh mikroorganisme. Obat-obatan contohnya obat anti inflamasi menekan sintesis protein, inflamasi, kontraksi luka dan epitelisasi (Ambarwati, 2009).
Sjamsuhidajat (2010) mnyatakan pada pasien yang mengkonsumsi obat-obatan tertentu akan memiliki penyembuhan luka yang berbeda. Misalnya penggunaan obat steroid dapat menurunkan inflamasi dan memperlambat sintesis kolagen. Obat anti inflamasi akan menekan sintesis protein, kontraksi dan epitelisasi.
7)      Status nutrisi
Menurut Sjamsuhidajat (2010) mengatakan bahwa nutrisi sangat penting terhadap proses penyembuhan luka. Tubuh memerlukan asupan nutrisi dari makanan untuk pertumbuhan dan mempertahankan jaringan tubuh agar tetap sehat. Suriadi (204) menyatakan bahwa terjadinya injury atau luka berarti terjadi gangguan kontinuitas dan struktur pada jaringan tubuh. Nutrisi berfungsi untuk menjaga agar fungsi jaringan yang mengalami gangguan dapat berfungsi seimbang atau tidak mengalami komplikasi lain. Proses perbaikan jaringan luka terdiri dari inflamasi, fibroblast, dan maturasi atau remodeling yang memerlukan nutrisi yang adekuat.

8)      Protein
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa gangguan proliferasi fibroblast, neoangiogenesis, sintesis kolagen dan remodeling pada luka dikarenakan adanya kekurangan protein. Penurunan protein seperti albumin, total limposit, transferin merupakan resiko terhambatnya proses penyembuhan luka. Selain itu protein juga berpengaruh pada mekanisme kekebalan dan fungsi leukosit seperti pagositosis.
9)      Karbohidrat
Karbohidrat dibutuhkan untuk suplai energi seluler.
10)  Zat besi
Zat besi diperlukan untuk sintesis Hb yang bersama oksigen diperlukan untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Arteri yang rendah akan mengganggu sintesis kolagen dan pembentukan sel epitel. Jika sirkulasi lokal aliran darah buruk jaringan gagal memperoleh oksigen yang dibutuhkan. Penurunan Hb darah atau anemia akan mengurangi tingkat oksigen arteri dalam kapiler dan menunggu perbaikan jaringan (Sjamuhidajat, 2010).
11)  Vitamin A
Vitamin A diperlukan untuk sintesis kolagen dan epitelisasi pada proses penyembuhan luka. Kekurangan vitamin A menyebabkan berkurangnya produksi macrophag, yang konsekuensinya rentan terhadap infeksi, retardasi epitelisasi dan sintesis kolagen.


12)  Vitamin C
Vitamin C berguna untuk sintesis kolagen dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi. Sedangkan kekurangan vitamin C menyebabkan kegagalan fibrolast untuk memproduksi kolagen, mempermudah terjadinya ruptur pada kaoiler dan rentan terjadinya infeksi.
13)  Vitamin E
Kekurangan vitamin E mempengaruhi pada produksi kolagen.
14)  Vitamin K
Vitamin K sangat dibutuhkan untuk membantu sintesis protombin dan beberapa faktor pembekuan darah yang diperlukan untuk mencegah perdarahan yang berlebihan pada luka.
15)  B-Complek
Berfungsi dalam produksi energi dan imunitas selulernya sintesis sel-sel darah merah.
16)  Zinc
Pada jaringan membantu sintesis protein dan pada luka berperan dalam sintesis kolagen.
17)  Infeksi
Infeksi sistemik atau lokal dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Untuk luka yang mengalami infeksi akan lebih sulit sembuh


18)  Obesitas
Pada orang yang mengalami kegemukan maka jaringan lemak akan kekurangan suplai darah untuk melawan infeksi bakteri dan untuk mengirimkan nutrisi serta elemen seluler yang berguna dalam penyembuhan luka.
e.       Tujuan perawatan luka
Menurut Ambarwatu & Sunarsih (2009) menyatakan bahwa perawatan luka perlu untuk dilakukan dengan tujuan :
1)      Melindungi luka dari trauma mekanik
2)      Mengimobilisasi luka
3)      Mengabsorbsi drainase
4)      Mencegah kontaminasi dari kotoran-kotoran tubuh (Feses dan urine)
5)      Membantu hemostasis
6)      Menghambat atau membunuh mikroorganisme
7)      Memberikan lingkungan fisiologis yang sesuai untuk penyembuhan luka
8)      Mencegah perdarahan
9)      Meningkatkan kenyamanan fisik dan fisiologis




f.       Pengobatan Luka
Suriadi (2004) menyatakan bahwa pengobatan luka secara umum dibagi menjadi dua sebagai berikut :
1)      Pengobatan umum
Sebelum dilakukan pengobatan umum, atasi dahulu syok dan perdarahan
2)      Pengobatan lokal menggunakan daun sirih
Daun sirih memiliki nama latin Piper betle linn, kandungan kimia dan sifat sifat kimia daun sirih mengandung minyak atrisi yang terdiri dari hidroksi kavikol,kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol. Sepertiga dari minyak atrisi terdiri dari fenol dan sebagian besar adalah kavikol yang memberikan bau khas daun sirih dan memiliki daya pembunuh bakteri lima kali lipat dari fenol biasa (Moeljanto, 2003 dalam Celly, 2010). Daun sirih mengandung saponin yang memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka (Suratman et al. 1996 dalam Celly, 2010).
Chavikol adalah salah satu komponen yang terkandung dalam daun sirih yang dapat berfungsi sebagai antiseptik. Kandungan daun sirih hijau adalah minyak atsiri yang mengandung antara lain chavicol dan chavibetol, yaitu senyawa yang mempunyai khasiat antiseptik. Khasiat antiseptik itu diduga erat berkaitan dengan pemakaiannya sebagai penghambat pertumbuhan bakteri pada luka (Arifin, 2008 dalam Celly, 2010).



1.      Konsep Dasar Masa Nifas
a.       Definisi Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2009).
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya placenta sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari (Ambarwati, 2010).

b.      Tahapan Masa Nifas
Ada beberapa tahapan masa nifas menurut Prawirohardjo (2008) yaitu:
a.       Puerperium Dini
Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri danberjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b.      Puerperium Intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c.       Remote Puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bilaselama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan.
Menurut Saleha (2009), bahwa ada beberapa priode dalam masa nifas yaitu:
1)      Periode Immediate Postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lochea, tekanan darah, dan suhu.
2)      Periode Early Postpartum (24 jam-1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
3)      Periode Late Postpartum (1 minggu-5 minggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.
c.       Perubahan Fisiologi Masa Nifas
Perubahan-perubahan yang dapat terjadi (Prawirohardjo, 2008) dalam masa nifas adalah sebagai berikut: perubahan fisik, involusi uterus dan pengeluaran lokhia, perubahan sistem tubuh lainnya, dan perubahan psikis.
d.       Program dan Kebijakan Teknis dalam Masa Nifas
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas (pasca partum) dilakukan untuk menilai status ibu dan BBL, untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi dalam masa nifas (Saifuddin, 2005).
Morbiditas pada minggu-minggu pasca partum disebabkan karena endometritis, mastitis, infeksi pada episiotomi atau laserasi, infeksi traktus urinarius (UTI), dan penyakit lain. Pada banyak kasus setiap wanita pasca partum yang mengeluh demam tanpa atau disertai nyeri harus dievaluasi melalui pemeriksaan fisik dari kepala sampai jari kaki (Wheeler, 2004).





Tabel kunjungan masa nifas

Asuhan Kunjungan Masa Nifas Normal Kunjungan
Waktu
Asuhan
I
6-8 jam Postpartum
1)      Mencegah perdarahan masa nifas karenaatonia uteri
2)      Pemantauan keadaan umum ibu
3)       Melakukan hubungan antara bayi dan ibu (Bonding Attachment)
4)      ASI eksklusif

II
6 hari postpartum
1)      Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, dan tidak ada tanda-tanda perdarahan abnormal.
2)      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan perdarahan abnormal
3)      Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
4)      Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi
5)      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit

III
2 minggu postpartum
1)      Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, dan tidak ada tanda-tanda perdarahan abnormal.
2)      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan perdarahan abnormal
3)      Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
4)      Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi
5)      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit

IV
6 minggu Postpartum
1)      Menanyakan pada ibu tentang penyulitpenyulit yang ia alami
2)       Memberikan konseling untuk KB secara dini, imunisasi, senam nifas, dan tanda-tanda bahaya yang dialami oleh ibu dan bayi











2.      Faktor-faktor yang Dapat Memengaruhi Penyembuhan Luka
1.      Umur
Umur merupakan faktor resiko untuk terjangkit penyakit dan masalah kesehatan yang tidak dapat diubah (Rajab, 2009). Penambahan usia akan berpengaruh terhadap semua fase penyembuhan luka sehubungan dengan adanya gangguan sirkulasi dan koagulasi, respon inflamasi yang lebih lambat dan penurunan aktifitas fibroblas (Johnson & Taylor, 2005).
Morison (2004), meyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan di dalam struktur dan karakteristik kulit sepanjang rentang kehidupan yang disertai dengan perubahan fisiologis normal berkaitan dengan usia yang terjadi pada sistem tubuh lainnya, yang dapat mempengaruhi predisposisi terhadap cedera dan efisiensi mekanisme penyembuhan luka. Kulit utuh pada orang dewasa muda yang sehat merupakan suatu barier yang baik terhadap trauma mekanis dan juga infeksi, begitu juga dengan efisiensi sistem imun yang memungkinkan penyembuhan luka lebih cepat. Sistem tubuh yang berbeda tumbuh dengan kecepatan yang berbeda pula, tetapi lebih dari usia 30 tahun mulai terjadi penurunan yang signifikan dalam beberapa fungsinya seperti penurunan efisiensi jantung, kapasitas vital, dan juga penurunan efisiensi sistem imun, masing-masing masalah tersebut ikut mendukung terjadinya kelambatan penyembuhan seiring dengan bertambahnya usia.
Masa dewasa merupakan rentang kehidupan manusia yang paling panjang, dibanding dengan rentang kehidupan sebelumnya. Secara umum, masa dewasa dikelompokkan atas tiga bagian, yaitu 1. Dewasa Dini (20-35 tahun), 2. Dewasa madya (36-45 tahun), 3. Dewasa Akhir (di atas 45 tahun). Dewasa Dini disebut juga periode usia produktif (masa reproduksi sehata), yaitu suatu periode seseorang mulai menjadi calon orangtua. Saat berusia 20-30 tahun sebagian dewasa dini telah menikah, dan menjadi orangtua muda (Lumongga dan Pieter, 2010). Kutipan ini didukung oleh Prasetyawati, 2011; menyatakan bahwa pengelompokan umur berdasarkan usia produktif yaitu Pasangan Usia Subur (PUS) dengan umur 20-35 tahun.
2.      Kebersihan
Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga (Saleha, 2009).
Tujuan dari perawatan diri adalah meningkatkan derajat kesehatan seseorang, memelihara kebersihan diri seseorang, memperbaiki personal hygiene (kebersihan diri) yang kurang, pencegahan penyakit, meningkatkan percaya diri seseorang, menciptakan kenyamanan dan keindahan (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
Masalah kebersihan di dukung oleh pernyataan Green dalam Notoadmojo (2010) tentang faktor enabling (pemungkin) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya Puskesmas, obat-obatan, pakaian, jamban, air bersih dan lain-lain. Dalam masa nifas kondisi perineum yang terkena lokhea (darah dari uterus yang keluar melalui vagina) jadi lembab dan akan mengakibatkan perkembangan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi perineum, sehingga perlu dilakukan vulva hygiene (bersihkan vulva dan sekitarnya). Kebersihan perineum pada masa nifas terutama pada ibu dengan luka perineum penting untuk dilakukan, karena hal ini dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka (Kurnianingtyas dkk, 2009).

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri ibu post partum adalah sebagai berikut:
a.       Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.
b.      Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehati ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
c.       Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 3-4 kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah matahari dan disetrika.
d.      Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kemaluannya.
e.       Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut (Saleha, 2009).
Menurut JNPK-KR (2012), dalam pelatihan klinik Asuhan Persalinan Normal menyatakan bahwa perawatan luka perineum meliputi hal-hal seperti:
a.       Menjaga agar perineum selalu bersih dan kering
b.      Menghindari pemberian obat trandisional
c.       Mencuci luka dan perineum dengan air dan sabun 3-4 kali sehari
d.      Kontrol ulang maksimal seminggu setelah persalinan untuk pemeriksaan penyembuhan luka. Ibu harus kembali lebih awal jika mengalami demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya, dan bila luka terasa lebih nyeri.
3.      Budaya
Kebudayaan adalah suatu sistem gagasan, tindakan, hasil karya manusia yang diperoleh dengan cara belajar dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Budaya memiliki nilai-nilai tersendiri tergantung dengan budaya yang dianut oleh seseorang dan dianggapnya benar secara turun temurun atau secara agama yang bisa diterima dikalangan masyarakat (Rachmah, 2010).

Budaya merupakan salah satu yang mempengaruhi status kesehatan. Di antara kebudayaan maupun adat-istiadat dalam masyarakat ada yang menguntungkan, ada pula yang merugikan. Budaya atau keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak (pantang makan) telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka (Dayu, 2012).
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan (Saleha, 2009).
Adapun jenis-jenis makanan yang dipantang (Swasono, 2004 dalam Suparyanto, 2011) adalah bermacam-macam ikan seperti ikan mujair, udang, ikan belanak, ikan lele, ikan basah karena dianggap akan menyebabkan perut menjadi sakit. Ibu melahirkan pantang makan telur karena akan mempersulit penyembuhan luka dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Jika ibu alergi dengan telur maka makanan pengganti yang dianjurkan adalah tahu, tempe dan sebagainya. Buah-buahan seperti pepaya, mangga, semua jenis pisang, semua jenis buah-buahan yang asam atau kecut seperti jeruk, cerme, jambu air, karena dianggap akan menyebabkan perut menjadi bengkak dan cepat hamil kembali. Semua jenis buah-buahan yang bentuknya bulat, seperti nangka, durian, kluih, talas, ubi, waluh, duku dan kentang karena dianggap akan menyebabkan perut menjadi gendut seperti orang hamil.
Semua jenis makanan yang licin antara lain daun talas, daun kangkung, daun genjer, daun kacang, daun seraung, semua jenis makanan yang pedas tidak boleh dimakan karena dianggap akan mengakibatkan kemaluan menjadi licin Jenis makanan yang dipantang seperti roti, kue apem, makanan yang mengandung cuka, jenis mie, ketupat dengan alasan bahwa semuanya dianggap akan menyebabkan perut menjadi besar. Hanya boleh makan lalapan pucuk daun tertentu, nasi, sambel oncom dan kunyit bakar. Kunyit bakar sangat dianjurkan agar alat reproduksi cepat kembali pulih. Ibu nifas minum abu dari dapur dicampur air, disaring, dicampur garam dan asam diminumkan supaya ASI banyak. Hal ini tidak benar karena abu, garam dan asam tidak mengandung zat gizi yang diperlukan oleh ibu menyusui untuk memperbanyak produksi ASI nya (Swasono, 2004 dalam Suparyanto, 2011).
Masih banyaknya ibu nifas yang melakukan pantang makan disebabkan oleh beberapa faktor menurut Paath dalam Supariyanto (2011) yaitu:
a.       Faktor predisposisi yang meliputi:
1)      Pengetahuan
Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang hanya setengah justru lebih berbahaya daripada tidak tahu sama sekali, kendati demikian ketidaktahuan bukan berarti tidak berbahaya.
2)       Pendidikan
Pendidikan merupakan jalur yang ditempuh untuk mendapatkan informasi. Informasi memberikan pengaruh besar terhadap perilaku ibu nifas. Apabila ibu nifas diberikan informasi tentang bahaya pantang makanan dengan jelas, benar dan komprehensif termasuk akibatnya maka ibu nifas tidak akan mudah terpengaruh atau mencoba melakukan pantanng makanan.
3)      Pengalaman
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan dan tindakan sesorang dalam melakukan sesuatu hal. Adanya pengalaman melahirkan dan menjalani masa nifas maka ibu akan mempunyai perilaku yang mengacu pada pengalaman yang telah dialami sebelumnya. Misalnya ibu nifas yang dahulunya mengalami masalah, baik pada dirinya dan bayinya karena pantang makanan maka ibu nifas tidak akan melakukan pantang makanan kembali pada masa nifas berikutnya.
4)      Pekerjaan
Pekerjaan merupakan suatu usaha dalam memporelh imbalan yaitu uang. Suami yang bekerja akan mendukung ibu dalam memenuhi kebutuhan masa nifas yang mengandung banyak zat gizi, sedangkan ibu yang bekerja menyebabkan ibu mempunyai kesempatan untuk bertukar informasi dengan rekan kerja tentang pantang makanan.
5)      Ekonomi
Status ekonomi merupakan simbol status sosial di masyarakat. Pendapatan yang tinggi menunjukan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi faedah zat gizi untuk ibu hamil. Sedangkan kondisi ekonomi keluarga yang rendah mendorong ibu nifas untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kesehatan.

6)      Budaya
Budaya adalah menjalankan ritual yang menyatakan tentang hubungan, kekuatan, dan keyakinan. Lingkungan sangat mempengaruhi, khususnya di pedesaan yang masih melekatnya budaya tarak dari nenek moyang, dan sangat berpengaruh besar terhadap prilaku ibu pada masa nifas. Adapun keadaan keluarga yang mempengaruhi perilaku seseorang yaitu orang tua yang masih percaya dengan budaya tarak yang memang sudah turun temurun dari nenek moyang.





B.     Kerangka Teori
Bagan 2.1 faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka